Sunday, November 01, 2009

Artikel Cantik berjudul 'Aku Cantik maka Aku ada'

Oke, mumpung aku lagi semangat tuk nulis ini itu or to do something new in this beautiful morning... Aku mu berbagi artikel yang aku ketik ulang dari salah satu buku yang pernah aku pakai sebagai referensi bikin tugas Sistem Komunikasi Indonesia di semester 5 kemarin...

Alesan aku suka banget sam artikel ini, ya apalagi klo bukan karena apa yang dijabarkan beliau benar2 sebuah realita hidup kita sekarang ini yang seakan2 diciptakan oleh persepsi media.. Artikel ini juga pernah aku posting di note Facebook.. Tapi mungkin karena kepanjangan, jdi ya cuma jadi pajangan aja, tanpa ada yang ngebaca or kasih komen... Hehehe.. Eh salah aku juga sih, ngeposting artikel yang agak berat ini pas jam 11 malem, itu kan waktunya orang istirahat... Hihihihi



Judul. : Aku Cantik Maka Aku Ada
Penulis : Muzayin Nazarudin
Buku : "Media, Jurnalisme dan Budaya Popular" (2008 : 125-129)


"Di televisi, hanya ada dua wanita: cantik dan cantik sekali," seloroh seorang teman. Jika dicermati, seloroh tersebut ternyata tepat menggambarkan bagaimana konstruk wanita di televisi kita, bahkan konstruk sosial wanita si zaman sekarang.

Wanita-wanita cantik ala televisi itu menjadi inspirasi sekaligus idola bagi kamu hawa di neger ini, terlebih para remaja putri. Tanyalah pada teman atau adik perempuan kita, "siapa idola kalian?" Pasti, merka tak akan menyebut R.A Kartini, Cut Nyak Dien atau Dewi Sartikam remaja muslimah tak lagi mengingat Khadijah, Aisyah, Fatimah atau Ummu Salamahm nama-nama itu sudah usang, terlalu kuno. Mereka punya daftar baru: Marshanda, Dian Sastrowardoyo, Agnes Monica, Alyssa Soebandono, Zaskia Adya Mecca dan sederet nama populer lainnya. So what? Salahkah mengidolakan mereka? Bukan masalah salah atau benar, masalahnya pada kondisi-kondisi di balik pengidoaan tersebut.

Setiap idola membutuhkan media. Pada masa revolusi, medianya adalah revolusi itu sendiri. Soekarno, Hatta, Syahrir, Cut Nyak Dien atau RA. Kartini menjadi idola pada masa itu karena prestasu dan jasa politik mereka. Kita menyebut mereka sebagai 'pahlawan'. Sebagai sebuah teks, pahlawan setidaknya mengandung makna prestasi, idola, sekaligus kultus.

Bagaimana dengan pahlawanipahlawan kita sekarang? Media apa yang mentasbihkan seseorang menjadi pahlawan? Konstruksi kepahlawanan adalah historis, mengikuti 'agama' dari suatu masa historis tertentu. Maka, ketika televisi telah menjadi agama resmi masyarakat perindustri sekarang ini (Gerbner dalam Rakhmat, 1991), pendefinisian pahlawan pun mengikuti konstruksi yang dibangun televisi.

Salah satu konsep penting yang diajarkan televisi adalah: 'pahlawan' wanita pasti cantik. Tidak hanya itu, televisi juga membuat sebuah definisi, cantik adalah: kurus langsing, putih, berambut lurus hitamn modis dan selalu menjaga penampilan, serta rutin melakukan perawatan tubuh agar awet muda.

Ingat dengan slogan "healthy inside fresh outside"? Ingat iklan Pixy UV Withening, Ponds White Detox atau Snow White Hazeline? Layaknya seorang guru, mereka aktif memberitahukan kuliah bahwa cantik itu berkulit putih, tanpa kerut, dan tentu saja segar. Ingat slogan "Forever young"? Ingat iklan Olay Total Effect atau Ponds Age Miracle? Mereka juga guru yang mengajarkan hal baru: kecantikan harus selalu dirawat, jangan sampai terlihat tua. Simak juga iklan shampoo, semuanya menjadikan rambut hitam lurus sebagai model, sekaligus mengkampanyekan bahwa model rambut itulah yang tercantik.

Adakah yang salah dengan definisi kecantikan tersebut? Jawabannya tehas: ya. Pertama, definisi tersebut meniadakan definisi-definisi kecantikan lainnya yang sangat beragam di berbagai wilayah kebudayaan yang berbeda. Dalam budaya Jawa, rambut yang bagus adalah yang ikal "ngandan-ngandan". Eropa zaman pencerahan mencirikan cantik pada kesuburan wanita, karenanya vantik zaman itu identik dengan gemuk, seperti tampak dalam lukisan Monalisa karya Da Vinci. Orang-orang Afrika mengenal konsep cantik, dan pasti bukan berkulit putih, kemana konsep-konsep cantik dari berbagai budaya tersebut? Mereka tidak punya tempat, karena konsep mereka tidak sejalan dengan kepentingan akumulasi modal para produsen produk kecantikan.

Kedua, kampanye kecantikan tersebut secara fundamental menanamkan 'budaya pemujaan tubuh' kepada generasi muda kita. Dalam buadaya ini, dimesi etis atau ukuran baik-buruk adalah tubuh: baik karena tubuhnya cantik, buruk karena tubuhnya tidak cantik. Dengan ukuran itu, Agnes Monica, Marshanda dan sederet artis lainnya menjadi 'baik', menjadi idola lebih karena kecantikan dan daya tarik seksual mereka, bukan karena kemampuan akting, olah voka ataupun prestasi mereka.

Tidak hanya dalam dimensi etis, budaya pemujaan tubuh ini bahkan menelusup hingga dimensi ontologis tentang keberadaan (being) dengan sebuah pesan utama: keberadaan manusia karena tubuhnya. Model being ini mempunyai jargon filsafat tersendiri: "aku cantik maka aku ada".

Dalam sejarah manapun, eksistensi harus ditunjukkan kepada yang lain. Eksistensi seorang penulis karena tulisannya dibaca publik, eksistensi seorang filsuf karena ide-idenya dianut sebuah masyarakat. Maka, dalam zaman kita, untuk 'mengada' seorang perempuan tidak hanya harus cantik, melainkan kecantikannya harus diketahui oleh yang lain. Tegasnya, eksistensi perempuan ketika kecantikannya diakui publik.

Maka, sangat mudah dipahami mengapa kemudian iklan - serta berbagai acara televisi lainnya, semisal sinetron - selalu menampilkan model cantik dengan cara-cara pengambilan gambar yang benar-benar memperlihatkan bagaimana mulus dan putihnya kulit serta langsingnya tubuh si model. Di mata pengiklan, jelas mereka ingin mengatakan bahwa produk mereka bisa mengantarkan para perempuan untuk mencapai puncak kecantikan seperti para model tersebut. Di mata para model dan artis? Mereka sering berdalih, "tuntutan skenario". Namun, sebenarnya bukan hanya itu, lebih mendasar karena eksistensi mereka akan semakin kokoh ketika kecantikan tubuh mereka diakui publik melalui iklan dan sinetron yang mereka bintangi. Bagi mereka yang bukan artis masih bisa menunjukkan eksistensinya dengan gaya berpakaian yang mampu menunjukkan kecantikan tubuhnya.

Dalam model filsafat ini, menjadi tua adalah bencana. Maka, untuk mempertahankan eksistensi, perempuan harus merawat kecantikannya dengan merawat tubuh mereka secara rutin, kalau perlu operasi plastik untuk menangkal bencana ketuaan.

Kampanye eksistensai 'cantik' ini ditopang oleh berbagai alat pemuasnya yang lengkap dalam jejaring kuasa yang saling menopang. Televisi mengkampanyekannya melalui berderet-deret iklan produk kecantikan, sinetron-sinetron remaja yang menampilkan para 'pahlawan' yang cantik, termasuk juga dengan reporter dan pembawa acaranya yang cantik. Iklan-iklan ini kemudian menjadi semacam kekuatan magis yang terus memicu cita rasa kawula muda untuk bertindak dan mengkonsumsi, bukan hanya atas dasar kepuasan diri, namun lebih atas dasar 'nilai' dan 'mitos' tentang diri mereka sendiri yang telah dikonstruksi oleh televisi. Mereka berlomba-lomba mempercantik diri.

Untuk itu, sarana pemenuhnya pun telah siap: pusat kecantikan yang semakin bertebaran semacam Natasha, London Beauty Center, Larissa, atau Golden Beauty. Bagi mereka yang muslimah Karita, Al Fath, atau butik-butik muslimah lainnya menyediakan berbagai sarana untuk tampil cantik.

Televisi mengajarkan kita untuk menjadi cantik, karena dia guru yang baik dan mempunyai relasi yang luas, untuk menjadi cantik seperti yang diajarkan, telah siap segala perangkat pendukungnya. Sungguh, ideologi 'cantik' ini ditopang oleh aktor kuat dalam jejaring kuasa yang hegemobik. Sekali lagi, 'aku cantik maka aku ada', dan itu sangat mungkin


Nah gimana? Sesuai realita banget kan? Televisi eman media nomer wahid yang bisa menciptakan persepsi baru di masyarakat kita yang notabenenya doyan nonton TV daripada membaca n menganalisa... Hohoho..

Thx u.. ^^

Welcome November.. hope this is the start of my new life..

Wow.. Cepet bgt waktu berlalu.. Sekarang udahh masuk bulan november, 2 bulan t'akhir sebelum tahun 2009 meninggalkan kita... Sedikit falshback, banyak waktu terlewati dan tersia-sia di hidup aku.. Mau menyesali dan menangis juga enggak akan mengembalikan waktu yang udah pergi jauh di belakang kita... Yang bisa aku lakuin sekarang... Mencoba menganalisa kesalahan2ku selama setahun ini, dan memperbaikinya..

Selintas, ada yang mengganjal di dalam hati aku, setahun ini, tepatnya setelah lebaran tahun kemarin (2008), aku mulai merasa ada perubahan dalam pola hidup aku, bukan.. Bukan kemajuan! Tapi kemunduran!! Hidup aku mundur!! Dan ini merupakan tanda suatu kegagalan ada dalam diri aku.. Hal yang bener2 aku rasa kemundurannya yaitu:

1. Stelah lebaran tahun lalu, aku mulai males bgt perawatan muka n badan.. Finally kulit aku skrg jauh lebih item drpd yg dulu.. Parah bgt..
Bukan ga ada usaha tuk balikin kondisi kulit aku kya dulu.. Tapi aura males tuh bener2 nempel bgt di diri aku.. Semakin item aku, semakin turun rasa PD aku yg emang udah dibawah rata2... Skrg aku jarang lagi fto2 dgn kamera hp.. Aku understimate ma diriku sendiri... Segala macam perawatan dah aku beli, tapi aku bener2 ga rutin n males2an... Aku mu move on!! Aku ga mu stuck kya gini!! Aku dah coba dgn positive thinking tuk membanggakan diri dgn cara mensugesti diri dgn ngucapin mantra ajaib ini "item itu eksotis n jauh lebih sehat" tapi tetep ajaaa... Saat aku dah yakin dgn keyakinanku itu, adaaa aja org yg ngejatuhin aku dgn kata2 sengitnya.. 'Kamu item banget' dll dsb... Please, listen to me.. Aku juga ga mau kya giniii... Someoneee please help me.. Get me out off here!!!

2. I'm the queen of lazyness..
Tau kenapa aku ngomong gini? Kebayang gak sih, tidur diatas tempat tidur yg penuh dgn buku, baju, majalah n segala macem printilan2 yg Ganggu banget, pasti rasanya risih n ga bsa tidur... Tapi apa?? Aku bisa!! Padahal sblmnya, aku ga bsa tdur klo ada 1butir debu diatas t4 tidur... Sekarang??? Gosh!!! Aku sanggup tidur diatas tempat tidur yg kondisinya gak layak tuk ditidurin selama 2minggu! Aku bsa 2mggu sekali bru beresin kamar... Parah banget deh..

3. Ms. Boros
Aku shock pas tau pengeluaran aku parah bgt gedenya.. Finally mulai 3bulan belakangan, aku mulai pengiritan besar2an.. Tapi tetep aja ga bsa nabung, coz uang kepake terus buat beli ini itu... Aaaarggh... Pusing lah klo ngomongin msalah ini... Tapi aku yakin, Allah akan bantu usahaku untuk mengembalikan semua ke keadaan normal dan buat aku jadi manusia yg lebih bijak dalam membeli... Amiiin..

4. Ketinggalan jaman banget
Aku jarang bgt denger lagu2 baru yang akhirnya aku jadi terlihat kuper n ga tau lagu apa2, yg m'indikasikan klo aku gak gaul... Walaaah... Pusyiiing.. Bajupun, aku sekarang lebih menikmati tuk pakai kaos lengan panjang gedombrongan n jeans + sandal jepiit.. Bener2 ga ok tuk dipandang... Fiuuuh...

5. Kurang baca buku
Banyak buku yang gak aku beli/baca dengan berbagai pertimbangan yang setelah dipikir2 lagi, koq ga masuk akal.. Msa aku ga jdi beli buku, cma karena aku takut aku ga bisa mkan hri itu?! Aaarggh.. Emang aku sebulan sekali sering n masih tetep ke Gramedia, entah itu sendiri, sama pacar ataupun temen.. Tapi ya gitu... Cuma numpang baca buku2 n ga beli.. Padahal rasanya hati tuh seneeeng bgt klo pnya buku... aku ngerasa pengetahuan aku makin menurun stahun belakangan ini, buku2 yang aku beli n baca cuma sebatas novel2 gak penting yang akhirnya gak jadi dibaca juga... Tapi sebulan belakangan ini, aku sanggup beli buku2 sampe ratusan ribu rupiah demi skripsi aku.. Ada sih yang bilang, 'buat apa beli buku klo cuma tuk skripsi? Kan bisa pinjem' waaa.. Maaf ka, aku ga sependapat.. Aku pilih beli buku, karena aku bisa baca2 lagi buku itu nantinya n siapa tau, saat aku udah di dunia kerja, buku2 itu kepake... Hohoho positive thinking n positive feeling... :)

6. Dll dsb kemunduran2 yg ada dalam hidup aku.. Tapi apapun ini, aku terima dengan penuh syukur n ikhlas.. Allah.. Aku yakin dengan kuasaMu... Kuatkan hamba, dan jadikanlah hamba menjadi umatMu yang senantiasa memperbaiki diri... Amiiin...

My Wish List

  • Andromax V
  • Online Shop
  • Rumah Jajan Feeza Faza
  • Minimalis House
  • Suzuki Splash